SEJARAH ASAL-USUL DESA ROWODADI GRABAG PURWOREJO JAWA TENGAH INDONESIA





















































































































































































TENTANG DESA ROWODADI GRABAG























































Desa Rowodadi adalah desa yang terletak di kecamatan grabag kabupaten Purworejo Jawa Tengah.























































Desa Rowodadi Grabag di bangun ± usai perang Pangeran Diponegoro,salah satu pendiri desa Rowodadi Grabag, Tumenggung Ronoyudho adalah senopati/prajurit dari Pangeran Diponegoro .



















































































Tiga orang tokoh besar dalam pembangunan desa Rowodadi kecamatan grabag;























































1.Tumenggung Ronoyudho



























2.Mondro Busono



























3.Wonoyoso























































Beliau-beliau ini adalah yang mengawali pembuatan desa kami.























































Desa Rowodadi di bagi menjadi 3 kadus [pedukuhan];























































1.kadus Roworejo



























(Tumenggung Ronoyudho)























































2.kadus Rowosari



























(Mondro Busono)























































3.kadus Sidomulyo



























(Wonoyoso)



















































































Hasil utama penduduk di antaranya; padi,gula merah dan ikan.























nama sanggar seninya TUNGGUL LARAS























































Kesenian desa Rowodadi :















































































1.wayang kulit



























Dalangnya bpk.Susilo dengan gelar Ki Suryokondo.























































2.Campursari /gamelan























































3.Dangdut partai/organ tunggal



























PETA HASIL PILKADES DESA ROWODADI KECAMATAN GRABAG KABUPATEN PURWOREJO

PETA HASIL PILKADES DESA ROWODADI KECAMATAN GRABAG KABUPATEN PURWOREJO
Lambang KETELA: Bpk.Rusman Lambang PADI : Bpk.Keling Purnomo Lambang JAGUNG:Bpk muhtadi

Minggu, 05 Februari 2012

Sejarah kota Purworejo jawa tengah

Sejarah Singkat Kabupaten
Purworejo Kabupaten Purworejo (Bahasa Jawa:
Purwareja), adalah sebuah
kabupaten
di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya
adalah Purworejo. Kabupaten ini
berbatasan dengan Kabupaten WonosoboKabupaten Magelang di
utara,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
di timur, Samudra Hindia di selatan,
serta Kabupaten Kebumen di barat. Geografi Bagian selatan wilayah Kabupaten
Purworejo merupakan dataran
rendah.
Bagian utara berupa pegunungan,
bagian dari Pegunungan M. Di
perbatasan dengan DIY, membujur Pegunungan Menoreh. Purworejo berada di jalur utama
lintas selatan Pulau Jawa.
Kabupaten ini
juga dilintasi jalur kereta api, dengan
stasiun terbesarnya di Kutoarjo. Pembagian administratif
Kabupaten Purworejo terdiri atas 16
kecamatan, yang dibagi lagi atas
sejumlah desa dan kelurahan. Pusat
pemerintahan berada di Kecamatan
Purworejo. Sejarah Prasasti Kayu Ara Hiwang ditemukan
di Desa Boro Wetan (Kecamatan
Banyuurip), jika dikonversikan
dengan kalender Masehi adalah
tanggal
5 Oktober 901. Tata kota Purworejo merupakan
warisan tata guna lahan sejak jaman
pemerintahan Hindia Belanda.
Sejumlah bangunan tua masih
terawat
digunakan hingga kini, diantaranya Masjid Jami’ Purworejo (tahun
1834),
rumah dinas bupati (tahun 1840),
dan bangunan yang sekarang
dikenal
sebagai Gereja GPIB (tahun 1879). Alun-alun Purworejo seluas 6 hektar,
konon adalah yang terluas di Pulau
Jawa. Perekonomian Pertanian Aktivitas ekonomi kabupaten ini
bergantung pada sektor pertanian,
diantaranya padi, jagung, ubi kayu,
dan hasil palawija lain. Sentra
tanaman padi di Kecamatan
Ngombol, Purwodadi, dan Banyuurip.
Jagung terutama dihasilkan di
Kecamatan Bruno. Ubi kayu sebagian
besar dihasilkan di Kecamatan
Pituruh. Di tingkat provinsi, Purworejo
menjadi salah satu sentra penghasil
rempah-rempah (Bahasa Jawa:
empon-empon), yaitu: kapulaga,
kemukus, temulawak, kencur,
kunyit, dan jahe. Selain untuk bumbu
penyedap masakan, juga untuk
bahan baku jamu. Empon-empon
yang
paling banyak dihasilkan Purworejo
adalah kapulaga. Sentra produksi di Kecamatan Kaligesing, Loano, dan
Bener. Konsumen tanaman
empon-empon adalah perajin jamu
gendong, pengusaha industri jamu
jawa, dan rumah makan. Sekitar 75 pabrik jamu di Jawa
Tengah mengandalkan bahan baku
dari
kabupaten ini. Demikian juga
pengusaha jamu tradisional di
Cilacap, seperti Jaya Guna, Serbuk Sari,
Serbuk Manjur, dan Cap Tawon Sapi.
Pembeli biasanya mendatangi sekitar
lima toko penyedia bahan jamu di
Pasar Baledono. Kecamatan Grabag dikenal sebagai
sentra penghasil melinjo yang
buahnya dijadikan makanan kecil
yaitu emping. Sedangkan Kecamatan
Bener dan Banyuurip serta
Purwodadi dikenal sebagai penghasil durian Peternakan Di bidang peternakan, ternak yang
menjadi khas Purworejo adalah
kambing
peranakan ettawaIndia yang
memiliki postur tinggi besar.
Peternakaan kambing PE terutama di Kecamatan
Kaligesing. Sisanya dari Kecamatan
Purworejo, Bruno, dan Kemiri. Di
Kecamatan Kaligesing, kambing itu
dikawinkan dengan kambing lokal
sehingga tercipta kambing PE ras Kaligesing.
Bagi sebagian besar peternak di
Purworejo, memiliki kambing ini
merupakan
kebanggaan tersendiri, ibarat
memiliki mobil mewah. Setiap tahun ribuah
kambing dipasarkan ke luar
Purworejo, termasuk ke Jawa Timur
(Ponorogo,
Kediri, Trenggalek), Sumatera
(BengkuluJambi), Riau, serta Kalimantan
(Banjarmasin). Industri Di bidang industri, Purworejo
memiliki satu industri tekstil di
Kecamatan
Banyuurip. Selain tekstil, di
kecamatan ini ada dua industri
pengolahan kayu dengan 387 tenaga kerja. Satu
industri yang sama dengan 235
tenaga kerja di
Kecamatan Bayan. Saat ini hasil
industri yang mulai naik daun adalah
pembuatan bola sepak. Industri ini mulai dirintis tahun 2002 di Desa
Kaliboto,
Kecamatan Bener, bola sepak
bermerek Adiora itu sudah
menembus pasar
mancanegara. Meski baru setahun berdiri, pembuatan bola sepak itu
mewarnai
kehidupan masyarakat Kecamatan
Bener. Di Tahun 2007 berdiri cabang
dari
rokok Sampoerna di kecamatan Bayan yang akan menyerap tenaga
kerja
cukup banyak. Bahan Jamu dan Bola Sepak Di tingkat Provinsi Jawa Tengah,
Purworejo menjadi salah satu sentra
penghasil
empon-empon. Ini adalah rempah-
rempah yang terdiri atas kapulaga,
kemukus, temulawak, kencur, kunyit, dan jahe.
Selain untuk bumbu penyedap
masakan,
juga untuk bahan baku jamu.
Konsumen tanaman empon-empon
adalah perajin jamu gendong, pengusaha
industri jamu, dan rumah makan.
Sekitar 75
pabrik jamu di Jawa Tengah
mengandalkan bahan baku dari
kabupaten ini. Demikian juga pengusaha jamu
tradisional di Cilacap, seperti Jaya
Guna,
Serbuk Sari, Serbuk Manjur, dan Cap
Tawon Sapi. Pembeli biasanya
mendatangi sekitar lima took penyedia bahan
jamu di Pasar Baledono. Harga
pasaran
empon-empon itu Rp 2.000-Rp
5.000 per kilogram. Hasil industri yang mulai naik daun di
Purworejo adalah pembuatan bola
sepak.
Industri ini mulai dirintis tahun 2002
di Desa Kaliboto, Kecamatan Bener.
Bola sepak bermerek Adiora itu sudah
menembus pasar mancanegara.
Nigeria,
salah satu negara di Afrika, pernah
memesan beberapa kontainer bola
sepak dari sini. Pariwisata Dalam bidang pariwisata, purworejo
mengandalkan pantainya di sebelah
selatan yang bernama “Pantai
Ketawang” dan “Pantai Congot”,
didukung
dengan gua-gua : “Gua Selokarang” dan “Sendang Sono”, di Sendang
Sono
(artinya: Kolam dibawah pohon
Sono) masyarakat mempercayai
bahwa mandi
disendang tersebut akan dapat mempertahankan keremajaan. Musium Tosan Aji Musium ini berbeda dengan musium
Ronggowarsito di Semarang
maupun musium
lainnya. Karena di musium Tosan Aji
ini dipamerkan khusus tosan aji atau
barang pusaka. Mulai dari pembuatan awal di beselen sampai
pada jenis-jenis pusaka yang ada
dan pernah dibuat di Indonesia. Masjid Agung Purworejo Masjid Agung ini terkenal karena di
sini terdapat bedug terbesar di
Indonesia. Dengan diameter sekitar
2 meter lebih dan dibuat sekitar
taun 1800-an. Bedug ini biasanya
ditabuh hanya pada hari-hari khusus, seperti pada bulan romadlon
dan pada hari-hari besar keagamaan. Gereja Belanda Gereja ini dibangun pada jaman
pemerintahan Hindia Belanda,
sekarang bernama GPIB (Gereja
Protestan Indonesia bagian Barat).
Letak gereja ini sama dengan masjid
agung, sama-sama berdiri di depan alon-alon kota Purworejo. Sampai
saat ini masih berfungsi sebagai
rumah peribadatan dan melayani
jemaah. Alon-Alon Kota Purworejo Alon-alon ini menjadi jantung
kehidupan kota Purworejo sampai
saat ini. Jika pagi berfungsi menjadi
tempat kegiatan olah raga anak-
anak sekolah sampai dengan upacara
pada hari-hari besar. Pada malam hari, fungsi alon-alon ini menjadi
tempat jajan bagi masyarakat.
Berbagai makanan tersedia di sini.
Dari makanan khas seperti bandrek
dan kacang rebus sampai dengan
tempe dan ayam penyet ada di sini. Makanan Khas Daerah Beberapa masakan dan makanan
khas Purworejo antara lain: * Tahu Kupat (beberapa wilayah
menyebut “kupat tahu”), sebuah
masakan
yang berbahan dasar tahu dengan
bumbu pedas yang terbuat dari gula
jawa cair dan sayuran seperti kol dan
kecambah.
* Geblek : makanan yang terbuat
dari tepung singkong yang dibentuk
seperti
cincin, digoreng gurih * Clorot : makanan terbuat dari
tepung beras dan gula merah yang
dimasak
dalam pilinan daun kelapa.
* Rengginang : gorengan makanan
yang terbuat dari ketan yang dimasak,
berbentuk bulat, gepeng. Tempat nongkrong/ jajan * Bakso Pak Sukar: Di Jalan
Diponegoro Kutoarjo
* Sate kambing Pak Bedjo : Jl.
Diponegoro Kutoarjo
* RM Mbak Limbuk : Samping BRI
Purworejo * Soto Pak Rus : Stasiun KA
Purworejo
* Ayam Panggang Mbak Purwati :
sisi barat alun-alun purworejo Kehidupan Masyarakat Orang menyebut Purworejo sebagal
Kota Pensiunan. Itu karena kota
kelahiran
Jenderal Ahmad Yani ini sunyi sepi.
Obyek wisatanya pun kering. Namun,
jika terlanjur mampir di sini, cobalah
dekati restoran trotoarnya, siapa
tahu ada
nuansa lain yang ditemukan. “Ke Purworejo!” kata saya pada
teman yang menjemput di Bandara
Adisucipto,
Yogyakarta. “Hah, apa yang mau dilihat di sana?”
jawab teman itu heran. “Kalau mau jalan-jalan, mendingan
langsung saja ke Kebumen atau ke
Wonosobo. Di sana banyak obyek
wisatanya. Di Purworejo nggak ada
yang bisa
dinikmati,” saran teman itu. “Saya ingin melihat dari dekat
produksi mebel Jati Indah yang
terkenal itu,”
terangku, baru teman itu paham. Memang, tak ada yang bisa dinikmati
di Purworejo. Kota itu hanyalah
sebuah
jalur antara Yogya dan kota-kota
lain di pesisir selatan Pulau Jawa.
Tenang dan Sepi. Keadaan itu membuat banyak
orang menjuluki Purworejo sebagai
kota
pensiunan, tempat orang
beristirahat di hari tua. Belakangan,
setelah produksi mebel Jati Indah membanjiri pasar
furniture tanah air, orang baru
mendekatkan
nama Purworejo dengan mebel kelas
atas, setelah Jepara. Jalan raya menuju Purworejo dari
arah Yogya mulus, hampir tak ada
yang
berlubang. Jalan di dalam kota ini
juga beraspal halus. Meski pada hari
kerja, jalan dalam kota ini terlihat lengang,
Dengan leluasa becak-becak
melenggang
di jalan raya. Masuk Purworejo, kita akan
disambut oleh Monumen Jenderal
Ahmad Yani.
Seakan-akan mengucapkan ‘Selamat
Datang’ patung Jenderal Besar
dalam ukuran raksasa ini, adalah monumen
kebanggaan masyarakat. Di lokasi
monumen ini, masyarakat Purworejo
kadang melewati sorenya dengan
berjalan-jalan. Ahmad Yani sendiri lahir di sini dan
sepanjang masa menjadi tokoh
kebanggan
masyarakat Purworejo. Menyimak sejarah pembentukan
Kabupaten Purworejo, tampaknya
pantas bila
wilayah ini mendapat “gelar” S3
(sampun sanget sepuh), Hari jadi
kabupaten ini 5 Oktober 901. Sekarang, tahun
2005, berarti usianya 1.104tahun! Penetapan hari jadi Purworejo tidak
lepas dari bukti sejarah primer,
Prasasti
Kayu Ara Hiwang, berupa batu
andesit yang ditemukan di Desa
Boro Wetan, Kecamatan Banyuurip. Dalam salah
satu kalimat yang ditulis dalam
bahasa
Jawa Kuno disebutkan tanggal,
bulan, dan tahun yang kemudian
ditetapkan sebagai hari jadi kabupaten ini. Kesan sebagai kota tua sangat
terasa saat menelusuri wilayah ini.
Tata kotanya
yang terkesan asri dan kuno, yang
merupakan warisan tata guna lahan
zaman kolonial. Bangunan tua di alun-alun
sebagai peninggalan zaman itu
tampak
terawat dan masih digunakan,
seperti Masjid Jami Purworejo yang
dibangun pada tahun 1834, rumah dinas
bupati dibangun tahun 1840, atau
gereja GPIB di
bangun tahun 1879. Lahan terbuka, yang disebut alun-
alun itu, seluas enam hektar juga
dipertahankan keasliannya oleh
pemerintah setempat. Konon, alun-
alun ini
terluas di seluruh Pulau Jawa. Di tengah alun-alun itu, ada dua pohon
beringin,
yang konon juga sudah berusia
ribuan tahun. Peyek dan Ayam Gelinjang Malam di Kota Purworejo adalah
sepi. Begitu azan magrib
berkumandang,
kesunyian mulai menyelimuti kota.
Orang memilih berdiam dalam rumah
dari pada jalan-jalan di luar. Sekedar
“makan angin” sekalipun, ogah
rasanya bagi
masyarakat di kota ini. Oleh karena
itu, jangan heran kalau di sini tak
ada pusat perbelanjaan, hiburan malam,
apalagi cafe atau life music. Makan? Mungkin ini satu-satunya
acara di malam hari. Lokasi makan
malam
pun tak banyak pilihan, kecuali di
alun-alun. Lokasi makan yang
terkenal di sini adalah ‘Ayam Panggang Mbak
Purwati’. Di sini, orang makan secara
lesehan
dalam tenda yang dirancang begitu
unik. Sambil makan, pengunjung
dihibur dengan alunan musik ‘organ tunggal’
dengan penyanyi yang ala kadarnya.
Tak
jarang pengunjung akan didaulat
untuk menyumbangkan
kebolehannya bernyanyi. Mbak Purwati sendiri, adalah
penyanyi favorit di “restoran”nya.
Suaranya
memang tak kalah bila dibandingkan
dengan Cici Paramida, lembut dan
menghanyutkan. Orangnya juga cantik, sehingga yang makan bisa
berhenti
mengunyah begitu ia menyanyi.
Katanya, bila sore-sore Mbak
Purwati tampil
dalam dandanan aduhai, pasti sebentar lagi restorannya akan
dikunjungi ‘orang penting’. Masih di lokasi alun-alun, tepatnya di
sebelah barat di depan Masjid
Gedhe,
ada pedagang bajigur dengan
rondenya. Kata orang, saking
terkenalnya bajigur dan ronde di sini, Sultan
Yogya pun tergoda untuk mampir
jika berada di
Purworejo. Warung ronde yang
paling banyak dikunjungi orang
adalah yang bermerek Ronde Wawan, mungkin
pemiliknya bernama Wawan. Sambil menikmati bajigur dan ronde,
kita bisa nimbrung “berdiskusi” soal
hal-hal yang up to date di Purworejo
dan sekitarnya hingga masalah
politik di
Jakarta. Sayangnya, arena makan di alun-alun tidak berlangsung lama.
Begitu
jarum jam menunjukkan angka 10,
lampu-lampu di restoran trotoar ini
mulai
padam. Arena makan malam mulai pindah ke
Jalan Brigjend. Katamso, tepatnya di
depan RS Muhammadiyah. Orang
menyebut restoran tengah malam ini
dengan
nama Peyek Barokah. Berbagai jenis peyek bisa disantap di sini, seperti
peyek
kacang, peyekteri, peyekiholo, peyek
bayem, peyek geblek dan grubi.
Peyeknya
gurih renyah, kacangnya gede-gede dan kriuk banget. Bukan hanya itu,
gudeg,
lodeh, nasi rames dan seribu satu
makanan khas Jawa juga bisa
disantap di
sini. Makan di Peyek Barokah bayangkan
seperti santapan ala buffet. Namun
jangan
pedulikan “tata krama”, boleh comot
makanan lewat kepala orang atau
lewat atas piring orang yang sedang
makan. Jangan pula tonjolkan status
sosial
anda di sini, karena itu tidak
penting. Semua pengunjung, tukang
becak, tukang ojek, sopir angkutan, kuli pasar,
atau anda yang baru turun dari
mobil sekalipun
hams rela berbaur jadi satu dengan
satu tujuan: comot peyek. Itu kalau di malam hari. Kalau ingin
mencari makanan yang khas
Purworejo di
siang hari, Pasar Grabag adalah
tempat yang tepat. Lokasinya
sangat mudah dijangkau. Jika sampai di Pasar
Grabag, jangan cari makanan lain,
carilah
makanan bernama gelangan atau
krimpying atau tenting. Penganan
handmade ini bentuknya cenderung lingkaran
kecil, lubangnya kira-kira seukuran
jari
kelingking, warnanya kuning
kecoklatan alami karena tidak
memakai bahan pewarna. Dikemas dengan sayatan-sayatan
bambu, tiap sayatan biasanya untuk
empat
biji lanting, satu tangkai biasanya
terdiri dari lima untai dan satu gepok
dapat terdiri dari puluhan untai. Rasanya
lain dari yang lain, gurihnya nJawani,
berbeda dengan lanting yang sudah
dikemas dengan bungkusan plastic
seperti
di toko-toko. Masih soal “makanan”, di Tegalsari,
sebelah utara Kota Purworejo,
jugaterkenal
sebutan Ayam Gelinjang. Ayam
Gelinjang terkenal karena yang dijual
hanya paha dan dadanya. Dari namanya
orang bisa berpikir ayam ini lezat dan
gurih.
Tapi Anda tidak dianjurkan untuk
menyantapnya. Karena ayamnya
adalah ayam betina yang selalu mesem
cengengesan dan doyan duit. Jadi,
jelaslah,
Ayam Gelinjang itu bisa
mendatangkan malapetaka jika
didekati dan haram hukumnya untuk disantap. Transportasi Purworejo terletak di jalur Selatan
Jawa yang menghubungkan kota
Jogjakarta
dengan kota-kota lain di pantai
Selatan Jawa. Purworejo dapat
ditempuh melalui darat menggunakan moda
transportasi jalan raya dan kereta
api.
Stasiun besar di kabupaten ini
terletak di Kutoarjo yang disinggahi
kereta api ekonomi jurusan Bandung - Jogja,
Bandung - Madiun dan Purwokerto -
Surabaya serta kereta bisnis seperti
Senja Utama Solo dan Senja Utama
Jogja.
Kereta Eksekutif yang singgah di stasiun ini adalah Taksaka 2. Dari
stasiun
Kutoarjo sendiri juga
memberangkatkan kereta api sendiri
yaitu Sawunggalih
Utama jurusan Purworejo - Pasar Senen serta Sawunggalih Selatan
jurusan
Purworejo - Bandung Terminal bis
utama di kabupaten ini terletak di
antara
Purworejo - Kutoarjo tepatnya di kecamatan Banyuurip Legenda Tundan Obor : setiap musim
penghujan, saat hujan rintik, pada
senja hari
(surup), terdengar suara
bergemuruh seperti kentongan
ditabuh di sepanjang kali Jali, dimana akan ditemukan
beberapa barisan obor yang
melayang
sepanjang sungai Jali, dari Gunung
Sumbing hingga ke pantai, sampai
saat ini beberapa warga masyarakat masih
meyakini hal ini (dan beberapa
mengaku
masih menyaksikan). Sebagai bagian
dari daerah pesisir pantai Selatan,
legenda Nyi Roro Kidul juga beredar luas dikalangan penduduk. Kesenian Purworejo memiliki dua kesenian
yang khas : Jidur, tarian tradisional
diiringi
musik perkusi tradisional seperti :
Bedug, rebana, kendang. satu
kelompok penari terdiri dari 12 orang penari,
dimana satu kelompok terdiri dari
satu
jenis gender saja (seluruhnya pria,
atau seluruhnya wanita). kostum
mereka terdiri dari : Topi pet (seperti
petugas stasiun kereta), rompi
hitam, celana
hitam, kacamata hitam, dan berkaos
kaki tanpa sepatu (karena menarinya
di atas tikar), biasanya para penari
dibacakan mantra hingga menari
dalam
kondisi trance (biasanya diminta
untuk makan padi, tebu,
kelapa)kesenian ini sering disebut juga dengan nama
Dolalak Dzikir Saman - kesenian ini
mengadopsi kesenian tradisional
aceh dan
bernuansa islami, dengan penari
yang terdiri dari 20 pria memakai
busana muslim dan bersarung, nama Dzikir
Saman diambil dari kata samaniyah
(arab,
artinya : sembilan), yang
dimaksudkan sembilan adegan dzikir.
diiringi musik perkusi islami ditambah kibord dan
gitar. pada jeda tiap adegan disisipi
musik-musik yang direquest oleh
penonton) Tokoh dari Purworejo * Jan Toorop, pelukis Belanda.
* A.J.G.H. Kostermans, pakar botani
Indonesia.
* Jendral Ahmad Yani, pahlawan
revolusi
* Kol. Sarwo Edi Wibowo, mertua presiden Susilo Bambang Yudhoyono
* Bustanul Arifin, mantan Kabulog
Orde Baru
* Jenderal Urip Sumoharjo, pendiri
TNI
* Syeh Imam Puro, Ulama Purworejo * W.R.Soepratman, pencipta lagu
kebangsaan “Indonesia Raya” (masih
diperdebatkan - lihat artikel)
* Kyai Sadrach, Tokoh Penginjil
Jawa; Perintis Gereja Kristen Jawa
(GKJ) Di kabupaten ini terdapat sepuluh
SMA negeri, satu Madrasah Aliyah
(MAN)
negeri, dan satu Madrasah Aliyah
swasta. SMA 1 Purworejo adalah
salah satu sekolah negeri yang terdapat di
kabupaten ini. Sekolah ini terletak di
Jalan
Tentara Pelajar 55 Purworejo. Sumber: * Wikipedia Indonesia
* www.amanah.or.id, “Cobalah
Singgah di Purworejo”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar